Disusun dengan bantuan AI. Angka dan kutipan dari pihak lain ditautkan ke sumber yang dibuka saat menulis.
SOP mengubah cara kerja yang ada di kepala orang menjadi langkah tertulis yang bisa diikuti siapa pun di tim. Ilustrasi: Nalurika
SOP adalah singkatan dari standard operating procedure atau standar operasional prosedur: instruksi tertulis yang dibakukan untuk pekerjaan rutin, berisi langkah apa yang dikerjakan, oleh siapa, kapan, dan bagaimana. Untuk usaha, SOP yang baik membuat hasil kerja tetap sama walaupun orangnya berganti, dan membuat pemilik usaha tidak harus menjawab pertanyaan yang sama setiap hari.
Banyak usaha kecil merasa SOP adalah urusan perusahaan besar atau instansi pemerintah. Padahal gejala tidak punya SOP terasa di usaha sekecil apa pun. Admin baru salah mencatat alamat kirim karena tidak ada yang memberi tahu urutan konfirmasinya. Dua orang memberi jawaban berbeda untuk komplain yang sama. Uang kasir selisih setiap akhir bulan karena tidak ada yang tahu siapa yang menghitung dan kapan.
Artikel ini membahas pengertian SOP menurut pedoman resmi, tujuan dan manfaatnya, format dan komponennya, tiga contoh SOP untuk usaha, cara membuatnya langkah demi langkah, cara agar SOP benar-benar dipakai tim, dan bagaimana AI bisa membantu menyusun maupun memakai SOP.
Pengertian SOP
Di Indonesia, definisi resmi yang paling sering dirujuk ada di Peraturan Menteri PANRB Nomor 35 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan. Peraturan itu mendefinisikan SOP sebagai serangkaian instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan aktivitas organisasi, bagaimana dan kapan harus dilakukan, di mana dan oleh siapa dilakukan (Permen PANRB 35/2012, JDIH BPK). Walaupun ditujukan untuk instansi pemerintah, definisi ini berlaku sama untuk usaha.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) dalam pedoman penyusunan SOP-nya memberi definisi yang mirip: SOP adalah sekumpulan instruksi tertulis yang mendokumentasikan kegiatan rutin atau berulang yang dijalankan sebuah organisasi (EPA QA/G-6). EPA juga mencatat bahwa istilahnya bisa berbeda-beda, misalnya protokol, instruksi kerja, atau lembar kerja.
Dari dua definisi itu ada tiga ciri yang bisa dipegang:
Tertulis. Cara kerja yang hanya ada di kepala satu orang belum menjadi SOP.
Dibakukan. Ada satu versi yang disepakati dan berlaku, bukan versi masing-masing orang.
Untuk pekerjaan berulang. SOP dibuat untuk tugas yang terjadi terus, bukan untuk kejadian sekali saja.
SOP sering tertukar dengan istilah lain. Job description menjelaskan tanggung jawab sebuah jabatan, kebijakan menjelaskan aturan yang berlaku (misalnya "retur maksimal tujuh hari"), sedangkan SOP menjelaskan langkah menjalankan aturan itu. Kumpulan SOP, kebijakan, dan jawaban standar yang disimpan di satu tempat biasanya disebut knowledge base.
Tujuan dan manfaat SOP untuk usaha
EPA merangkum manfaat SOP dengan cukup lengkap. Penyusunan dan pemakaian SOP mengurangi variasi dan menjaga mutu lewat pelaksanaan proses yang konsisten, bahkan ketika ada pergantian personel sementara maupun tetap. SOP juga bisa menjadi bagian dari program pelatihan karyawan, mengurangi peluang salah komunikasi, dan dipakai sebagai daftar periksa saat pekerjaan diaudit (EPA QA/G-6).
Diterjemahkan ke situasi usaha kecil dan menengah, manfaatnya terasa di beberapa titik:
Hasil yang konsisten. Pelanggan mendapat pelayanan yang sama siapa pun admin yang bertugas hari itu.
Karyawan baru lebih cepat mandiri. SOP menjadi bahan orientasi, sehingga karyawan baru tidak harus belajar dengan cara bertanya satu per satu.
Pemilik usaha bisa melepas pekerjaan. Tugas yang sudah tertulis jelas bisa didelegasikan tanpa harus diawasi setiap langkahnya.
Kesalahan lebih mudah dilacak. Ketika ada masalah, tim bisa melihat langkah mana yang terlewat atau langkah mana yang memang perlu diperbaiki.
Dasar untuk otomasi dan AI. Proses yang sudah tertulis jauh lebih mudah diotomatiskan daripada proses yang hanya diingat.
Ada satu peringatan penting dari pedoman yang sama: SOP yang ditulis dengan baik pun akan gagal kalau tidak diikuti. Karena itu pemakaiannya perlu ditinjau dan ditegakkan oleh atasan langsung, dan salinan terbarunya harus mudah dijangkau di tempat orang bekerja (EPA QA/G-6). Bagian tentang cara agar SOP dipakai tim di bawah membahas hal ini lebih jauh.
Jenis dan format SOP
Permen PANRB 35/2012 membagi format SOP secara umum menjadi empat jenis: langkah sederhana, tahapan berurutan, grafik, dan diagram alir (Permen PANRB 35/2012). Pembagian ini praktis untuk usaha karena dasarnya adalah seberapa panjang prosedurnya dan seberapa banyak keputusan di dalamnya.
Pilih format berdasarkan panjang prosedur dan banyaknya keputusan, bukan berdasarkan mana yang terlihat paling resmi. Diagram: Nalurika
Langkah sederhana (simple steps). Bentuk paling sederhana untuk prosedur pendek dengan sedikit keputusan, umumnya kurang dari sepuluh langkah, dan dikerjakan oleh sedikit orang.
Tahapan berurutan (hierarchical steps). Pengembangan dari langkah sederhana untuk prosedur yang lebih dari sepuluh langkah dan butuh detail. Setiap langkah utama dijabarkan menjadi sub-langkah.
Grafik (graphic). Proses panjang dibagi menjadi sub-proses pendek, bisa dilengkapi foto atau gambar berketerangan. Peraturan itu menyebut format ini biasanya ditujukan untuk pihak di luar organisasi.
Diagram alir (flowchart). Dipakai ketika prosedur memuat banyak keputusan dengan pilihan jawaban, misalnya "ya" atau "tidak", "lengkap" atau "tidak lengkap". Simbol dasarnya empat: kapsul untuk mulai dan selesai, kotak untuk proses, belah ketupat untuk keputusan, dan anak panah untuk arah.
Untuk sebagian besar tugas di usaha kecil, langkah sederhana atau tahapan berurutan sudah cukup. Diagram alir layak dipakai untuk proses yang banyak cabangnya, seperti penanganan komplain. EPA juga menyarankan diagram alir sebagai pelengkap untuk menggambarkan proses yang dijelaskan dalam teks (EPA QA/G-6). Kalau proses Anda sudah tergambar sebagai alur, gambar itu sekaligus bisa menjadi bahan awal otomasi.
Komponen SOP
Tidak ada satu format SOP yang paling benar. EPA menegaskan bahwa format internal akan berbeda di tiap organisasi dan jenis SOP, dan tingkat detailnya bisa disesuaikan, misalnya dengan seberapa penting prosesnya, seberapa sering dikerjakan, dan berapa banyak orang yang akan memakainya (EPA QA/G-6). Meski begitu, ada komponen yang hampir selalu muncul.
Anatomi ringkas yang bisa diterapkan di dokumen bersama biasa. Diagram: Nalurika
Untuk SOP administratif, EPA menyebut topik yang bisa dimasukkan antara lain tujuan, ruang lingkup (kapan prosedur berlaku), ringkasan prosedur, definisi istilah, kualifikasi dan tanggung jawab pelaksana, langkah prosedur, kriteria atau daftar periksa, serta pengelolaan catatan (EPA QA/G-6). Permen PANRB 35/2012 untuk SOP pemerintahan menambahkan unsur identitas seperti nomor SOP, tanggal pembuatan, tanggal revisi, tanggal efektif, dan pengesahan, lalu bagian prosedur yang memuat uraian kegiatan, pelaksana, dan mutu baku berupa kelengkapan, waktu, dan output (Permen PANRB 35/2012).
Untuk usaha kecil, versi ringkasnya cukup seperti diagram di atas. Dua bagian yang paling sering dilupakan adalah pemilik SOP (siapa yang bertanggung jawab memperbaruinya) dan tanggal tinjau berikutnya. Tanpa keduanya, SOP cepat usang tanpa ada yang menyadari.
Contoh SOP untuk usaha
Tiga contoh di bawah adalah ilustrasi yang kami susun untuk usaha kecil yang berjualan lewat chat. Sesuaikan langkah, batas waktu, dan pelaksananya dengan kondisi usaha Anda, jangan disalin mentah-mentah.
Contoh 1: SOP menerima pesanan lewat WhatsApp
Contoh ilustrasi SOP format langkah sederhana; pelaksana: admin penjualan.
No
Langkah
Hasil yang diharapkan
1
Balas chat masuk dengan salam dan tanyakan produk yang diminati
Pelanggan merasa ditanggapi
2
Cek stok dan varian di daftar stok terbaru sebelum menjawab
Tidak menjanjikan barang yang habis
3
Kirim rincian pesanan: produk, jumlah, harga, ongkir, total
Pelanggan melihat total yang jelas
4
Minta nama, alamat lengkap, dan nomor penerima, lalu ulangi untuk konfirmasi
Data kirim benar
5
Kirim informasi pembayaran resmi usaha dan batas waktunya
Pelanggan tahu cara dan batas bayar
6
Cocokkan bukti bayar dengan mutasi rekening, lalu catat pesanan
Pesanan tercatat sebagai lunas
7
Teruskan pesanan ke bagian gudang dan kirim resi ke pelanggan setelah dikirim
Pelanggan bisa melacak paket
Langkah 1 dan 3 bisa dibantu fitur bawaan aplikasi, misalnya pesan otomatis dan balasan cepat yang dibahas di artikel auto reply WhatsApp Business. Langkah 6 adalah tempat data pelanggan sebaiknya masuk ke CRM atau setidaknya satu daftar pesanan yang rapi.
Contoh 2: SOP menangani komplain pelanggan
Proses ini banyak cabang keputusannya, jadi cocok ditulis sebagai diagram alir atau langkah dengan aturan "jika ... maka ...":
Terima komplain, ucapkan terima kasih sudah memberi tahu, dan minta nomor pesanan serta foto atau video masalahnya.
Cek data pesanan dan bukti yang dikirim.
Jika masalahnya termasuk yang sudah diatur kebijakan (misalnya barang rusak dalam pengiriman), tawarkan solusi sesuai kebijakan yang tertulis.
Jika di luar kebijakan atau nilainya di atas batas wewenang admin, sampaikan bahwa kasus diteruskan ke atasan dan beri perkiraan waktu jawaban.
Catat komplain, penyebab, dan solusinya di daftar komplain.
Hubungi pelanggan lagi setelah solusi dijalankan untuk memastikan masalah selesai.
Langkah 6 sering terlewat padahal penting untuk hubungan jangka panjang. Pola tindak lanjut semacam ini dibahas lebih rinci di artikel cara follow up customer.
Contoh 3: SOP tutup kasir di akhir hari
Cetak atau buka laporan penjualan hari itu dari aplikasi kasir.
Hitung uang tunai di laci dan pisahkan modal awal.
Cocokkan total tunai dan nontunai dengan laporan penjualan.
Jika ada selisih, catat jumlahnya dan dugaan penyebabnya, lalu laporkan ke penanggung jawab pada hari yang sama.
Simpan uang sesuai aturan usaha dan isi lembar tutup kasir dengan nama dan paraf petugas.
Perhatikan bahwa ketiga contoh menuliskan siapa pelaksananya, hasil yang diharapkan, dan apa yang dilakukan ketika ada pengecualian. Tiga hal itulah yang membedakan SOP dari sekadar daftar tugas.
Cara membuat SOP langkah demi langkah
EPA menyarankan SOP ditulis oleh orang yang memahami pekerjaannya, yaitu orang yang benar-benar mengerjakan atau memakai prosesnya, dan ditulis cukup rinci sehingga orang yang belum berpengalaman tetapi punya pemahaman dasar bisa menjalankannya tanpa diawasi (EPA QA/G-6). Urutan berikut bisa dijalankan tim kecil tanpa alat khusus.
Delapan langkah ini bisa dijalankan dengan dokumen bersama biasa. Diagram: Nalurika
Pilih proses. Mulai dari satu tugas yang paling sering dikerjakan, paling sering salah, atau paling sering ditanyakan. Jangan mulai dengan menulis SOP untuk semua hal.
Tentukan tujuan dan batas. Tulis hasil yang ingin dicapai dalam satu kalimat, kapan SOP berlaku, dan siapa pembacanya.
Amati cara kerja nyata. Ikuti orang yang mengerjakan tugas itu dan catat langkahnya apa adanya, termasuk pengecualian yang biasa muncul.
Pilih format. Langkah sederhana, tahapan berurutan, atau diagram alir, sesuai panjang dan banyaknya keputusan.
Tulis draf. EPA menyarankan SOP ditulis ringkas, langkah demi langkah, mudah dibaca, tidak ambigu, dengan kalimat aktif (EPA QA/G-6). Awali setiap langkah dengan kata kerja: "Cek", "Kirim", "Catat".
Uji oleh orang lain. Pedoman yang sama menyebut sangat membantu bila draf SOP dicoba oleh orang selain penulisnya sebelum ditetapkan. Catat di mana mereka ragu atau berhenti.
Setujui dan simpan. Beri nomor dan versi, lalu simpan di satu tempat yang mudah dibuka saat bekerja.
Latih dan tinjau. Perkenalkan ke tim, lalu perbarui setiap kali cara kerja berubah. EPA memberi contoh tinjauan berkala setiap satu sampai dua tahun, dan menyarankan SOP yang tidak lagi dijalankan ditarik lalu diarsipkan (EPA QA/G-6).
Cara agar SOP benar-benar dipakai tim
Masalah yang paling sering bukan SOP yang belum ditulis, melainkan SOP yang sudah ditulis lalu tidak dibuka lagi. Beberapa kebiasaan yang membantu:
Simpan di tempat kerja, bukan di arsip. Tautkan SOP dari tempat tim bekerja sehari-hari, misalnya catatan yang disematkan di grup tim atau halaman di knowledge base. Prinsip EPA tentang salinan yang mudah dijangkau di area kerja berlaku juga untuk dokumen digital.
Libatkan pelaksana sejak menulis. EPA mencatat pendekatan tim dalam menyusun SOP ikut membangun rasa memiliki dari calon penggunanya (EPA QA/G-6).
Latih satu SOP sekaligus. Praktikkan langsung dengan kasus nyata, bukan sekadar membagikan tautan dokumen.
Rujuk SOP saat ada masalah. Ketika terjadi kesalahan, tanyakan dulu: langkah mana yang terlewat, atau apakah SOP-nya yang kurang jelas? Pertanyaan ini membuat SOP hidup dan terus membaik.
Pakai daftar periksa untuk langkah kritis. EPA menyebut daftar periksa membantu memastikan langkah diikuti berurutan, dengan catatan bahwa daftar periksa adalah bagian dari SOP, bukan pengganti SOP.
Ukur yang sederhana. Misalnya jumlah pesanan yang salah alamat atau selisih kasir per bulan, sebelum dan sesudah SOP dijalankan.
SOP yang dipakai juga menjadi fondasi untuk melacak pekerjaan penjualan. Kalau setiap tahap pesanan sudah tertulis, tahap itu bisa dipetakan menjadi sales pipeline yang dipantau bersama.
Peran AI dalam menyusun dan memakai SOP
AI sekarang bisa membantu di dua titik: saat SOP ditulis, dan saat SOP dipakai.
AI untuk menyusun draf SOP
Alat generative AI seperti ChatGPT pandai merapikan catatan mentah menjadi struktur yang rapi. Alur yang kami sarankan:
Rekam atau tulis apa adanya cara orang mengerjakan tugas itu, termasuk pengecualiannya. Rapat pembahasan proses bisa dirangkum dengan AI untuk notulen rapat sebagai bahan mentah.
Berikan bahan itu ke AI bersama instruksi yang jelas: tujuan SOP, pelaksana, format yang diinginkan (misalnya tabel nomor, langkah, hasil yang diharapkan), dan permintaan untuk menandai bagian yang belum jelas sebagai pertanyaan.
Periksa hasilnya bersama pelaksana. Hapus langkah yang dikarang AI, lengkapi angka dan aturan yang benar, lalu uji seperti biasa.
Cara menulis instruksi yang jelas untuk AI dibahas di artikel prompt engineering, dan contoh perintah siap pakai ada di kumpulan prompt ChatGPT. Satu hal yang tidak boleh dilewati: AI tidak tahu harga, kebijakan, dan batas wewenang di usaha Anda. Kalau tidak diberi, ia cenderung mengisi celah dengan hal yang terdengar masuk akal. Penjelasan mengapa ini terjadi ada di artikel cara kerja AI.
SOP sebagai sumber jawaban AI
Setelah SOP tertulis rapi dan disimpan di knowledge base, isinya bisa dipakai asisten AI untuk menjawab pertanyaan tim seperti "bagaimana cara memproses retur?" langsung dari dokumen yang berlaku. Pola yang sama dipakai chatbot untuk menjawab pelanggan dari kebijakan resmi usaha, dengan jalur serah-terima ke admin untuk kasus di luar SOP.
Pada tahap lanjut, langkah SOP yang jelas dan berulang bisa dijalankan sebagian oleh alat otomasi seperti n8n, atau oleh AI agent yang mengerjakan beberapa langkah sekaligus. Urutannya tetap sama: tulis SOP dulu, uji dengan manusia, baru otomatiskan. Proses yang belum jelas di atas kertas akan tetap kacau ketika diotomatiskan.
Kesalahan umum saat membuat SOP
Ditulis oleh orang yang tidak mengerjakan. SOP yang disusun dari belakang meja sering tidak sesuai kenyataan, sehingga tim diam-diam tetap memakai cara lama.
Terlalu panjang dan mencampur banyak proses. Satu SOP untuk satu proses. Kalau terlalu panjang, pecah dan tautkan.
Bahasa yang ambigu. "Segera cek pembayaran" berbeda arti bagi tiap orang. Tulis batasnya, misalnya "dalam satu jam kerja".
Tidak ada langkah untuk pengecualian. SOP yang hanya menulis jalur normal akan ditinggalkan begitu ada kasus yang berbeda.
Tidak ada pemilik dan tanggal tinjau. SOP akhirnya usang tanpa ada yang menyadari, dan versi lama tetap beredar.
Menyalin contoh SOP dari internet apa adanya. Contoh berguna sebagai kerangka, tetapi isinya harus mengikuti cara kerja usaha Anda sendiri.
Kalau tim Anda ingin belajar menyusun SOP dan memakai AI untuk pekerjaan sehari-hari, mulai dari panduan belajar AI atau lihat kursus AI untuk pemilik usaha dan tim dari Nalurika. Kalau prosesnya sudah tertulis dan Anda ingin mulai mengotomatiskannya, lihat juga panduan digitalisasi UMKM. Artikel lain seputar AI dan operasional usaha ada di halaman artikel.
SOP (standard operating procedure atau standar operasional prosedur) adalah instruksi tertulis yang dibakukan untuk pekerjaan yang dilakukan berulang. Isinya menjelaskan langkah apa yang dikerjakan, oleh siapa, kapan, dan dengan alat apa, supaya hasilnya sama walaupun dikerjakan orang yang berbeda. Di usaha kecil, SOP bisa sesederhana daftar langkah bernomor di satu dokumen bersama.
Contoh yang paling sering dibutuhkan adalah SOP menerima pesanan lewat WhatsApp, SOP menangani komplain pelanggan, SOP tutup kasir di akhir hari, SOP mengemas dan mengirim barang, serta SOP orientasi karyawan baru. Pilih tugas yang dikerjakan setiap hari, sering menimbulkan kesalahan, atau sering ditanyakan oleh tim, lalu tulis SOP untuk tugas itu lebih dulu.
Job description menjelaskan tanggung jawab sebuah jabatan secara umum, misalnya admin bertugas melayani pelanggan dan mencatat pesanan. SOP menjelaskan cara mengerjakan satu tugas tertentu langkah demi langkah, misalnya urutan mencatat pesanan dari chat sampai pesanan dikirim. Satu jabatan biasanya menjalankan beberapa SOP, dan satu SOP bisa melibatkan lebih dari satu jabatan.
Sependek mungkin selama orang yang baru pertama kali mengerjakan tugas itu tetap bisa mengikutinya tanpa bertanya. Untuk tugas rutin yang sederhana, satu halaman berisi lima sampai sepuluh langkah sering sudah cukup. Kalau sebuah SOP terlalu panjang, biasanya isinya mencakup beberapa proses sekaligus dan lebih baik dipecah menjadi beberapa SOP yang saling menautkan.
Orang yang sehari-hari mengerjakan tugas tersebut, karena dialah yang tahu langkah nyata dan pengecualiannya. Pemilik usaha atau atasan berperan menetapkan tujuan, meninjau, dan menyetujui. Pedoman EPA juga menyarankan SOP ditulis oleh orang yang memahami pekerjaannya dan diuji oleh orang lain selain penulisnya sebelum ditetapkan.
Setiap kali cara kerjanya berubah, misalnya ganti aplikasi kasir, ganti ekspedisi, atau ada aturan diskon baru. Di luar itu, tinjau semua SOP secara berkala. Pedoman EPA memberi contoh tinjauan setiap satu sampai dua tahun, tetapi usaha yang prosesnya cepat berubah sebaiknya meninjau lebih sering. SOP yang sudah tidak dipakai sebaiknya diarsipkan.
Bisa membantu menyusun draf. Berikan catatan langkah kerja yang sebenarnya, tujuan SOP, siapa pelaksananya, dan format yang diinginkan, lalu minta AI merapikannya menjadi langkah bernomor. Hasilnya tetap harus dicek dan diuji oleh orang yang mengerjakan tugas itu, karena AI tidak tahu aturan, harga, dan pengecualian yang berlaku di usaha Anda.
Libatkan mereka saat menulis, simpan SOP di tempat yang mudah dibuka saat bekerja, dan latih satu SOP sekaligus dengan praktik langsung. Atasan perlu ikut memakai dan menagih SOP, misalnya merujuk ke SOP saat ada kesalahan. SOP yang dirasa menyulitkan biasanya tanda langkahnya perlu diperbaiki, bukan tanda karyawan malas.
Ingin tim Anda bisa menyusun SOP dengan bantuan AI?
Ceritakan proses mana yang paling sering bikin tim bertanya atau salah. Kami bantu menilai apakah perlu SOP, knowledge base, atau otomasi, dan bagaimana tim bisa belajar menyusunnya sendiri. Kami membalas di jam kerja.