Disusun dengan bantuan AI. Angka dan kutipan dari pihak lain ditautkan ke sumber yang dibuka saat menulis.
Chatbot menerima pesan, memahami maksudnya, lalu membalas atau meneruskan ke manusia. Ilustrasi: Nalurika
Chatbot adalah program komputer yang membalas pesan secara otomatis dalam bentuk percakapan, baik lewat ketikan maupun suara. Ada chatbot yang hanya mengikuti menu dan kata kunci yang sudah ditulis, ada juga chatbot AI yang bisa memahami kalimat bebas dan menyusun jawabannya sendiri. Di bisnis, chatbot paling sering dipakai untuk menjawab pertanyaan pelanggan yang berulang, kapan pun pesan itu datang.
IBM menjelaskan bahwa setiap chatbot, entah berbasis aturan atau AI, melewati proses yang sama: menerima pesan atau perintah suara, menafsirkan permintaannya, memilih tanggapan yang sesuai, lalu membalas atau menjalankan sebuah tindakan (IBM). Perbedaannya ada pada cara chatbot memahami permintaan dan memutuskan langkah berikutnya.
Artikel ini membahas apa itu chatbot dan sejarah singkatnya, jenis-jenis chatbot, cara kerjanya, contoh chatbot di bisnis, manfaat dan batasannya, serta cara menentukan apakah bisnis Anda sudah perlu chatbot. Kalau Anda mencari panduan teknis membuat chatbot di WhatsApp, kami sudah membahasnya terpisah di artikel chatbot WhatsApp untuk bisnis.
Apa itu chatbot, dan dari mana asalnya
Kata chatbot berasal dari chat (mengobrol) dan bot (robot, program yang bekerja otomatis). Wikipedia bahasa Indonesia memakai padanan bot obrolan, dan mencatat bahwa istilah "chatbot" pertama kali dipakai oleh Michael Mauldin pada 1994 untuk menyebut program percakapan (Wikipedia).
Programnya sendiri jauh lebih tua dari istilahnya. Salah satu yang paling terkenal adalah ELIZA, yang dibuat Joseph Weizenbaum di MIT dan dirilis pada 1966 (Wikipedia). ELIZA tidak benar-benar memahami makna. Ia mengenali kata kunci dalam kalimat pengguna lalu membalas dengan pola yang sudah disiapkan. IBM menyebut ELIZA sebagai salah satu chatbot pertama yang dikenal luas, yang meniru percakapan lewat pencocokan pola sederhana (IBM).
Prinsip itu masih bertahan sampai sekarang di chatbot berbasis menu dan kata kunci. Yang berubah adalah munculnya pemrosesan bahasa alami dan model bahasa besar (large language model, LLM), sehingga chatbot modern bisa menanggapi kalimat yang tidak pernah ditulis sebelumnya oleh pembuatnya. Model seperti inilah yang menggerakkan ChatGPT, Gemini, dan banyak chatbot layanan pelanggan berbasis AI.
Dalam percakapan sehari-hari, orang juga menyebut chatbot dengan istilah asisten virtual, bot WhatsApp, atau auto reply. Istilahnya berbeda, tetapi intinya sama: ada program yang membalas pesan, bukan manusia yang mengetik satu per satu.
Jenis-jenis chatbot
Untuk kebutuhan bisnis, chatbot paling mudah dibagi berdasarkan cara ia memahami pesan. IBM membedakan chatbot tradisional yang mengandalkan aturan dan pohon keputusan, dengan chatbot AI yang menggabungkan pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa alami, dan model bahasa (IBM). Kami memecah yang kedua menjadi dua supaya lebih mudah dipilih.
Tiga jenis chatbot yang paling sering ditemui bisnis. Dalam praktik, banyak chatbot menggabungkan ketiganya. Diagram: Nalurika
Rangkuman kami berdasarkan penjelasan teknologi chatbot dari IBM.
Jenis
Cara memahami pesan
Kelebihan
Kekurangan
Berbasis aturan (menu, tombol, kata kunci)
Mencocokkan pilihan atau kata dengan skenario yang sudah ditulis
Jawaban pasti, mudah dikendalikan, murah
Buntu kalau pertanyaan keluar dari skenario
AI percakapan
Menebak maksud (intent) dari kalimat bebas, lalu menjalankan alur yang sesuai
Bisa menangani banyak variasi kalimat
Perlu contoh latihan dan perawatan rutin
AI generatif (berbasis LLM)
Memahami konteks dan menyusun jawaban baru
Luwes, terasa alami, bisa merangkum dan menjelaskan
Bisa keliru dengan nada yakin, harus dibatasi pada data yang benar
Jenis pertama cocok untuk hal yang jawabannya pasti, misalnya jam buka atau status pesanan. Jenis kedua dan ketiga cocok untuk pertanyaan yang kalimatnya beragam. Pertanyaan "ongkir ke Bantul berapa?", "kirim ke Bantul kena berapa kak", dan "bisa antar ke daerah Bantul?" maksudnya sama, tetapi chatbot berbasis kata kunci sering gagal mengenalinya kalau kata kuncinya tidak persis.
Chatbot AI generatif paling luwes, tetapi juga paling berisiko. Model bahasa menyusun jawaban berdasarkan pola, bukan berdasarkan kebenaran. Karena itu chatbot jenis ini sebaiknya hanya boleh menjawab dari dokumen dan data bisnis yang Anda berikan, dan wajib tahu kapan berkata "saya teruskan ke admin". Kalau chatbot diberi wewenang mengambil langkah sendiri, misalnya mengecek stok lalu membuat pesanan, ia mulai mendekati apa yang disebut agen AI. Bedanya kami jelaskan di artikel AI agent adalah.
Cara kerja chatbot
Di balik layar, alur kerja chatbot bisa digambarkan dalam empat langkah. Langkahnya sama untuk semua jenis chatbot. Yang membedakan adalah langkah kedua, yaitu cara chatbot memahami pesan.
Empat langkah yang dilalui setiap chatbot. Langkah terakhir, serah-terima ke manusia, sering dilupakan. Diagram: Nalurika
Pesan masuk. Pelanggan mengetik pertanyaan, menekan tombol menu, atau mengirim pesan suara di kanal yang Anda pakai: WhatsApp, kotak chat di situs, Instagram, atau aplikasi.
Pahami maksud. Chatbot berbasis aturan mencocokkan pilihan atau kata kunci. Chatbot AI menebak maksud dan konteks kalimat. IBM memberi contoh pelanggan yang menulis bahwa ia memesan jaket minggu lalu dan ingin menukar ukurannya: chatbot AI bisa memahami permintaan itu tanpa memaksa pelanggan memilih menu (IBM).
Pilih atau susun jawaban. Chatbot mengambil jawaban yang sudah disiapkan, atau menyusun jawaban dari data yang diizinkan, misalnya daftar harga, kebijakan pengiriman, atau status pesanan dari sistem.
Balas atau serahkan. Chatbot mengirim jawaban, atau meneruskan percakapan ke admin manusia bila pertanyaannya di luar kemampuan atau wewenangnya.
Supaya bisa menjawab hal yang spesifik, misalnya status pesanan atau riwayat pembelian, chatbot perlu tersambung ke sistem lain seperti spreadsheet, toko online, atau CRM. Penyambungan seperti ini biasanya dikerjakan dengan alat otomasi alur kerja, misalnya n8n. Pola dasarnya sama dengan otomasi lain yang kami bahas di artikel otomasi adalah: ada pemicu (pesan masuk), ada syarat, dan ada tindakan.
Contoh chatbot di bisnis
Chatbot tidak hanya dipakai perusahaan besar. Berikut contoh yang umum ditemui, dari yang paling sederhana sampai yang memakai AI.
Contoh penggunaan chatbot menurut kanal dan tujuan. Disusun dari pengalaman kami menangani chat bisnis.
Kanal
Contoh chatbot
Jenis yang cocok
WhatsApp Business (aplikasi)
Pesan salam otomatis dan pesan di luar jam kerja
Berbasis aturan (fitur bawaan)
WhatsApp lewat jalur resmi
Menu pilihan layanan, cek status pesanan, pencatatan calon pembeli
Berbasis aturan, ditambah AI untuk memahami pertanyaan
Situs web
Kotak tanya-jawab produk dan kebijakan pengiriman
AI generatif yang dibatasi pada dokumen bisnis
Internal tim
Asisten yang menjawab pertanyaan karyawan soal SOP dan dokumen kantor
AI generatif dengan akses dokumen internal
Layanan pelanggan
Mengelompokkan chat masuk dan menyiapkan draf balasan untuk admin
AI, dengan manusia sebagai pengirim akhir
Contoh paling mudah dicoba adalah fitur salam di aplikasi WhatsApp Business, yang mengirim pesan otomatis kepada pelanggan yang menghubungi Anda (Pusat Bantuan WhatsApp). Secara teknis ini chatbot paling dasar: satu aturan, satu jawaban.
Langkah berikutnya biasanya chatbot yang mengajukan pertanyaan pembuka kepada calon pembeli, misalnya kebutuhan, jumlah, dan lokasi, lalu mencatatnya sebagai lead sebelum diteruskan ke tim penjualan. Dengan begitu, sales tidak perlu menanyakan hal yang sama berulang kali, dan tindak lanjutnya bisa dijadwalkan seperti panduan cara follow up customer.
Untuk layanan pelanggan, chatbot AI makin sering dipakai bukan untuk membalas langsung, tetapi untuk membantu admin: merangkum chat panjang, menandai keluhan yang mendesak, dan menyiapkan draf jawaban. Cara kerja dan batasannya kami bahas di artikel customer service AI.
Manfaat dan batasan chatbot
Manfaat chatbot yang paling terasa di bisnis kecil dan menengah adalah kecepatan. Pelanggan yang bertanya di malam hari tetap mendapat jawaban awal, dan admin tidak perlu mengetik jawaban yang sama puluhan kali sehari. IBM juga menyebut chatbot membantu organisasi memberi layanan lebih cepat, membuka akses informasi, dan melayani di banyak kanal sekaligus (IBM).
Batasannya sama penting untuk dipahami sebelum memasang chatbot:
Chatbot berbasis aturan mudah buntu. Pelanggan yang pertanyaannya tidak ada di menu bisa terjebak berputar-putar. Selalu sediakan pilihan "bicara dengan admin".
Chatbot AI bisa mengarang. Tanpa batasan, AI generatif bisa menyebut harga, stok, atau janji yang tidak pernah Anda buat. Batasi sumber jawabannya dan larang chatbot membuat komitmen.
Chatbot butuh perawatan. Harga berubah, produk baru datang, kebijakan diperbarui. Chatbot yang tidak diperbarui akan memberi jawaban basi dengan percaya diri.
Aturan kanal tetap berlaku. Di WhatsApp, bisnis hanya boleh menghubungi orang yang sudah memberikan nomornya dan memberi izin untuk dikirimi pesan (Kebijakan Pengiriman Pesan WhatsApp Business). Chatbot yang dipasang lewat aplikasi tidak resmi juga berisiko membuat nomor diblokir.
Pembagian tugas yang kami sarankan: chatbot untuk jawaban pasti, manusia untuk keputusan. Diagram: Nalurika
Kapan bisnis Anda perlu chatbot?
Tidak semua bisnis perlu chatbot sekarang. Kalau chat yang masuk masih sedikit dan admin bisa membalas dengan cepat, template balasan cepat dan pesan salam sering sudah cukup. Chatbot mulai masuk akal ketika beberapa tanda berikut muncul:
Pertanyaan yang sama terus berulang. Kalau sebagian besar chat menanyakan hal yang jawabannya bisa ditulis sekali, itu calon pertama untuk chatbot.
Banyak chat masuk di luar jam kerja. Pelanggan yang menunggu sampai pagi bisa sudah membeli di tempat lain.
Admin kewalahan di jam sibuk. Chatbot bisa mengambil pertanyaan pembuka sehingga admin fokus menutup penjualan.
Data calon pembeli tercecer. Chatbot bisa mengajukan pertanyaan yang sama ke semua calon pembeli dan mencatat jawabannya rapi.
Sebelum memilih alat, siapkan tiga hal: daftar pertanyaan yang paling sering masuk beserta jawaban resminya, daftar hal yang wajib diserahkan ke manusia, dan siapa admin yang menerima serah-terima. Kalau Anda memakai WhatsApp, pelajari juga jalur resminya di artikel WhatsApp Business API adalah, karena chatbot dengan volume besar biasanya berjalan di jalur itu.
Chatbot adalah program komputer yang bisa diajak bertukar pesan. Anda mengetik atau memilih menu, lalu program itu membalas secara otomatis. Di bisnis, chatbot paling sering dipakai untuk menjawab pertanyaan pelanggan di WhatsApp, situs web, atau aplikasi.
Chatbot biasa mengikuti aturan yang sudah ditulis: menu, tombol, atau kata kunci. Chatbot AI bisa memahami maksud kalimat bebas, dan chatbot AI generatif bisa menyusun jawaban baru. Makin luwes chatbotnya, makin penting batasan dan pengawasannya, karena AI bisa keliru.
Menu otomatis saat menghubungi layanan pelanggan bank atau operator seluler, asisten tanya-jawab di situs toko online, chatbot WhatsApp yang mencatat pesanan, serta asisten AI percakapan seperti ChatGPT dan Gemini. Di bisnis kecil, contoh paling sederhana adalah pesan salam otomatis di WhatsApp Business.
Chatbot bisa mengambil alih pertanyaan yang berulang dan jawabannya pasti, sehingga admin punya waktu untuk kasus yang butuh pertimbangan. Keluhan, pengembalian dana, nego harga, dan janji kepada pelanggan sebaiknya tetap dipegang manusia, dengan jalur serah-terima yang jelas.
Kumpulkan 20 sampai 30 pertanyaan pelanggan yang paling sering muncul beserta jawaban resminya, tentukan hal apa saja yang wajib diserahkan ke admin, lalu mulai dari fitur bawaan aplikasi yang sudah ada. Setelah pola pertanyaannya jelas, baru pertimbangkan chatbot AI.
Ceritakan pertanyaan pelanggan yang paling sering masuk dan kanal yang Anda pakai. Kami bantu menilai bagian mana yang layak dijawab chatbot dan bagian mana yang tetap dipegang admin. Kami membalas di jam kerja.